Selasa, 29 Maret 2011

SamWon House-Deal Keren

Selalu ada yang pertama untuk semua hal
Baik, ataupun buruk

Dari sekian pengalaman baik gue menggunakan voucher Deal Keren, sekarang saatnya mengalami yang buruk :)

Beberapa minggu lalu, gue membeli sekitar 9 voucher untuk makan di SamWon House di situs Deal Keren. Tentunya semua pesanan itu bukan buat gue, tapi titipan dari temen-temen gue juga.

Hari ini adalah hari eksekusinya (caelah bahasanya ;p).. bareng 4 orang teman, kami meluncur lah ke SamWon House, Setiabudi Building.

Di voucher itu, tertera dua aturan begini:
- Maksimal penggunaan 3 voucher untuk setiap transaksi
- Voucher dapat dipindahtangankan dan digunakan sebagai hadiah

Karena kami datang ber-5, lalu gue tanya lah sama pelayannya:
- Batas voucher kan 3 buah, kami bisa split bill nggak?
Jawabannya: nggak boleh

- Oh, kalo gitu, kita pisah meja aja ya. Jadi masing-masing pakai vouchernya masing-masing juga. Boleh kan kalau gitu?
Jawabannya: nggak boleh juga Mbak. Karena aturannya begitu.

- Hm, kalau pisah meja harusnya bisa dong? Kan beda bill. Nggak papa kok, kita dipisah aja duduknya.
Jawabannya: nggak bisa Mbak. Soalnya, maksimal 3 voucher untuk satu nama.

- Lho, berarti dalam satu hari saya cuma bisa pakai 3 voucher atas nama saya gitu?
Jawabannya: iya

- Kalau saya belinya lebih dari 3? Nggak bisa makan di sini lagi dong nanti malemnya?
Jawabannya: ya datangnya besoknya lagi aja Mbak

*singgggggggggggggggggg.............*

Peraturan yang aneh menurut gue.

Temen gue, L, lalu ngetweet ke DealKeren untuk menanyakan perihal ini. Karena menunggu 3 menit *rasanya lama banget lho, 3 menit untuk orang yang laper tapi harus menunggu konfirmasi apakah bisa makan atau nggak, hehehe* nggak dibales juga, akhirnya gue menelfon DealKeren.

- Mbak, di SamWon House katanya nggak bisa split bill yaa? (Jam 13.27)
Jawabannya: harusnya bisa Mbak

- Tapi tadi dibilang orang SamWonnya nggak bisa. Katanya 1 nama cuma boleh maksimal 3 voucher untuk satu hari transaksi
Jawabannya: sebentar ya, saya tanyakan dulu

********** menunggu 1 menit

Jawabannya: iya Mbak, nggak bisa. Soalnya kan aturannya cuma 3 voucher maksimal

- Lho, tapi kan aturannya voucher ini bisa dipindahtangankan sebagai hadiah? Berarti kalo saya ngasih orang, terus dia pake barengan sama saya, nggak bisa juga dong?
Jawabannya: ya kita nggak perkirakan begitu.

- Dan kalau kejadiannya begitu, gimana? Kalau orang yang saya kasih voucher sebagai hadiah itu makannya barengan waktunya sama saya? Nggak bisa juga?
Jawabannya: hm, sebentar ya Mbak. Saya tanya marketingnya dulu. Boleh minta nomer telfon Mbak?


Akhirnya gue kasih lah ya nomer telfon itu, sembari menunggu jawaban tweet-nya L di twitter. Berhubung kami udah pada kelaperan, akhirnya kami memesan Sogogi Jeongol, yaitu sup yang bisa buat 4 porsi. L dan 2 orang temen gue pesen tambah nasi 3 porsi. Minum, appetizer dan dessert-nya udah dapet gratis dari SamWon.

Jadi lah gue cuma makan itu appetizer, yang rasanya di lidah gue nggak karu-karuan. This is a total subjective opinion, ya. Mungkin karena gue udah kesel banget, nggak ada yang terasa enak di situ. Kerangnya rasa kulkas, kentang dan tahunya juga enakan di tempat somay depan kantor. Pas sup-nya dateng pun, gue cuma makan beberapa suap, terus dimakan sama temen gue, saking nggak bisa masuk perutnya ;p

Nggak lama, L bilang kalau DealKeren sudah menjawab tweet-nya, dan bilang bahwa dia pun baru tahu kalau di SamWon nggak bisa split bill. Gue pun nge-tweet ke DealKeren, bilang bahwa orang DealKeren katanya mau nelfon balik, tapi kok nggak nelfon2 ya? DealKeren minta maaf, itu karena orang salesnya susah dihubungi. Entah yang dimaksud orang sales DealKeren atau SamWon House. Ya sudahlah, semua pun kembali berusaha tetap menelan makanan.

Di saat nggak bisa nikmatin makanan itu, di belakang gue ada pegawai cowok yang kata temen gue berbaju putih (karena gue membelakangi si pegawai), yang sepertinya menelfon DealKeren.

Dengan lantang dia teriak-teriak tentang permasalahan ini. Yang paling terdengar jelas adalah:

"Berarti salah di DealKeren, dong!"

Dan omelannya berlanjut entah apa, gue udah nggak denger lagi. Karena gue dan temen-temen gue udah ilfil dengan kelakuan si pegawai itu tadi. Nggak ada etikanya banget dia marah-marahin DealKeren di saat kami masih ada di situ? Kalau dia berusaha melemparkan masalah ini ke DealKeren dengan menegaskan di telepon bahwa itu adalah kesalahan DealKeren, jujur ya, menurut gue, itu gagal.

Justru semakin gue merasa, bahwa pelayanan di SamWon House memang nggak bagus. Masa sih, mereka nggak di-training untuk menyelesaikan masalah dengan etika? Show some class, please?

Pengalaman buruk ini sampai bikin gue dan temen-temen gue berniat membeli makanan lagi dari situ. Karena beneran deh, dari pengalaman gue ini, nggak enak banget waktu makan lo harus dihabiskan di tempat yang sama sekali nggak membuat lo betah.

Jam 15.26 (hampir dua jam setelah telfon gue ke DealKeren), akhirnya gue ditelfon sama Mbak dari kantornya DealKeren. Penjelasannya:

DealKeren (DK): Kita sudah konfirmasi Mbak.. bahwa bisa kok, di SamWon dengan voucher atas nama satu orang, asal benar-benar pisah meja.
Me: oh gitu, karena tadi alesan SamWon House, satu nama cuma boleh pakai 3 voucher untuk 1 hari lho.

DK: Nggak kok Mbak, udah dikonfirmasi lagi
Me: Ya udah, gini Mbak. Saya kan masih punya beberapa voucher lagi nih. Dengan kejadian tadi, pastinya saya sama temen-temen nggak ada lagi yang mau balik ke sana, kan? Tapi karena terpaksa harus menggunakan voucher yang keburu dibeli, sudah pasti kondisinya boleh pisah meja ya Mbak?
DK: iya boleh Mbak..perjanjiannya boleh, kok
Me: Soalnya tadi udah nanya berbagai jalan, mereka tetap bilang 1 nama untuk 3 voucher dalam satu hari. Saya kerepotan sendiri tadi mau makan juga
DK: iya, mohon maaf ya Mbak


That's it... mendapat jawaban seperti itu sudah cukup membuat gue merasa lebih baik. Pelajaran buat gue, next time gue akan telfon dulu untuk mastiin masalah penggunaan voucher. Mungkin pelajaran buat DealKeren, untuk lebih teliti lagi bikin aturan penggunaan voucher. Mungkin buat SamWon House, pelayanannya ditingkatin lagi deh..terutama bagian sopan santun.


Tapi yang jadi masalah, mesti gue apain lagi ya voucher SamWon House yang tersisa ini? Tadinya mau gue pake makan berdua suami, tapi...

sumpah males banget balik ke SamWon House-nyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa >.<

Senin, 28 Maret 2011

By Milcah


Two toned scarf: Milcah 30k
Grey dress: Milcah 125k

Actually, i'm not that comfortable to put my own picture in my blog. But today, i really want to show what i bought last week and last few months from Milcah.

I bought them both from Milcah's garage sale. It doesn't mean that those are second hand stuffs, but they had small damage that didn't passed the quality standard of Milcah. So Othine (Milcah's designer) didn't sell them on the market.

Lucky me, eh.. us, Othine's friend who has this priviledge :D
Thanks Othine!

About an Ex

I'm in the mood for 90's songs today :)
Then i found a song Le Ragazze from Neri Per Casso, an a capella boyband from Italy.



This song reminds me of my Ex from junior high school. I had crush on him from 7th grade. He has a dark skin, lean hair, little eyes and nice smile :)

Actually, i had crush on his fair skinned friend. But somehow, that boy got steady with my friend, hahaha..broke my heart for a while, until my ex noticed me, and it took almost a year :)

That noon, i was in my shuttle car, talked about him with Poety, my senior which was his classmate. All of sudden, he passed the car, and Poety called him. And surprisingly he came to Poety, looked at me a while, then asked my name and my phone. I didn't want to lose my chance, so i asked his number back, hihihi...

We became friends after since with intense phone calls. After two weeks, we asked me to get steady, and i said yes :) it was a moment for me, that i will always remember. He might not my first love, but obviously my deep crush that time.

We both like Le Ragazze from Neri Per Casso. Well, actually i like it first because it reminds me of his voice. Yes, he has a nice voice, i could hear him talking for hours even sometimes i didn't understand what he's talking about, hehehe ;p

I didn't remember if we ever had a serious date. I used to refused because i was so nervous when he's around. But he nagged me to give us some quality time. So, we used to came to school early, and take a walk for 15 minutes, then back to school. It was a nice date for both of us.

Unfortunately, those wonderful days only last for three months. You know how teenager and relationship right? Hahaha..

Even though we broke up, we still keep in touch.

Our communication went distant when he moved for high school. I heard he dated someone, but nothing serious between them, because his dad forbid him. The other thing i heard about him, is that he got into drugs problem. I can even sensed it when i call him. He can't talk steadily, and lost his focus.

It was sad for me, really *my eyes went warm when i wrote this :')*. Because i still, liked him very much that time, and it hurts to see someone that you care about got into drugs.

When i went to college, we became friends. We're not in the same college, but somehow, we managed to be friends. He called me frequently. But too bad, it wasn't me he was trying to approach. He tried to get me into his friend.

We hung out few times, but his friend was the one who gave me affections. Not him, not the way i want it :')

I didn't remember why, but we became more distant when his friend got another girl. Well, isn't that complicated? Hahahaha!

Few years passing by...
I heard that my ex's dad died because of heart attack. His friend's parents got bankrupt, so he can't call me again because he doesn't have any money.

It was so SAD for me to hear that. I really wanted to help to elevate my ex's self esteem, really wanted to comfort him that time, but he seems to feel better to disappear.

Years gone by, i still didn't know where my ex left. His friends call me sometimes, and he became a counselor for drug addict :)

One and a half year before i got married, i met my old crush, his fair skinned friend i mentioned above. He told me, he met my ex once a while. He told me, my ex was suffering a disease, until his body weight dropped into 35kg (he is 168cm tall). But he can't reckon what it was. I assumed it because of his drug problem effect. I asked him where to find my ex, but he lost my ex's number.

Right before i got married, my high school friend, Aul, tweeted me, asked if i still remember my ex. I said Yes, of course! Deep in my heart i cursed my self, why did i never asked Aul before about my ex!!!
Then Aul delivered the shocking news, my ex has died. Like few days or a week before she tweeted me. I can't describe how awful i felt that time... i broke down, feel so sad, because i never had a chance to really show him that i care.. *now i really trying to hold my tears*

Dear TFY, may you rest in peace... really hope you read this, :')

Sabtu, 26 Maret 2011

Indonesia Financial Planning Expo 2011! Saya Hadir!




Indonesia Financial Planning Expo 2011, menurut kesimpulan gue adalah:
sebuah pameran untuk orang-orang yang pengen ngatur keuangannya jadi lebih baik, dibantu oleh para pakar keuangan dan berbagai financial clinics.

Gue tau ini seminggu sebelum event-nya berlangsung. My hubby's first reaction was: you go there, then tell me what you got. Hahaha! Dasar. Langsunglah gue mempromosikan acara ini ke beberapa teman, dan cuma sepupu gue aja seorang yang mau dan bisa ikutan.

Kami beli dari dua hari sebelumnya, dengan harga 150ribu. Kalo dateng on the spot, bayarnya 200 ribu.
Lokasinya di Plaza Bapindo.

Tibalah gue dan sepupu jam 9.10 pagi. Padahal jam 9 pagi itu acara udah dibuka, ihi ihi ihi ;p
Sampe sana, daftar ulangnya panjang. Setelah 20 menit lebih menunggu, dan Safir Senduk udah mulai sesi talkshow pertama, barulah kami masuk.
Dengerin Safir dan beberapa pembicara lainnya, gue pun memulai untuk mendapatkan 1 service gratis dari datang ke acara ini, yaitu:

Free Financial Check Up

Ada satu ruang khusus untuk beberapa financial clinics. Bisa ditebak, yang paling rame ngantrinya adalah untuk QM Financial-nya Ligwina, kedua Aidil Akbar, selanjutnya adalah MoneynLove serta One Consulting.

Gue dan Menur, sepupuku, berusaha mencari tahu gimana cara ngantrinya, dan...hm, clueless. Gak banyak yang bisa bantu, terutama deretan QM, MoneynLove dan One Consulting. Jadi kami memutuskan untuk daftar di Aidil AKbar ajah. Dapet urutan 34-35, sementara saat itu yang lagi consult adalah nomer 4! Sodara sodaraaaah!

Sambil nunggu, gue cari makan. Kebetulan di luar ada booth jual makanan. Gak pake mikir, gue langsung nembak: beli aqua ya mbak. Mbaknya: oke 5ribu mba.

Hm..aqua yang harganya 1200 itu jadi 5ribu.
Gue: kalo teh gelas itu berapa?
Mbaknya: 5 ribu juga
Gue: somay?
Mbaknya: seporsi tiga biji 18ribu
Gue: macaroni schotel?
Mbaknya: satu 25 ribu
Gue: tahu petis?
Masnya: 2500/piece

Akhirnya gue pergi dengan membeli 2 potong tahu petis, segelas teh kemasan dan dua botol aqua untuk = 20 ribu ajah

Bayaran yang mahal untuk mengatur keuangan, heh? Hahaha :p

Kelalang liling, kami nanyain tiga financial clinics. Pertama, Kurnia Finacial. First impression: cukup hard selling karena orang liat2 bukunya aja diajak beli. Dan kami diminta nulis data. Jadi kami turutin aja, lalu tanya tanyi aja seperlunya, dan tentu untuk tahu harga.

Kedua: Tatadana. Ternyata ini didirikan oleh Tejasari, partnernya Ligwina dulu. Tertarik lah gue. Tanya tanyi, dapet voucher untuk konsultasi gratis, dan untuk konsultasi biasa 250.000/orang. Lumayan kan? :)

Ketiga: QM Financial. Not much. Mereka cuma njelasin dikit doang. Kita diri-diri di depan mejanya pun mereka diem aja. Mungkin karena kami tampak seperti anak kuliahan (Menur tepatnya) ya.

Setelah itu, adalah sesi-nya Ligwina dan Eko untuk jadi pembicara. Seperti yang gue perkirakan, yang nonton ruame. Gue sebenernya lebih pengen balik lagi ke tempat free financial clinic. Tapi si Menur pengen dengerin. Jadi ya sudah. Denger sampe presentasinya Ligwina selesai, lalu kami ke free consulting.

Bener kan, udah cukup sepi karena pada nontonin Ligwina. Jadi gue sama Menur bisa dapet antrian. Oh ya, sebelum free consulting, kami diminta untuk mengisi data-data keuangan untuk tahu sehatkah keuangan kami?

Gue dapet planner nya cewek. Namanya mbak Yuna atau Yona gitu deh. Setelah diitung, keuangan gue katanya suka ada bocor halus. Jadi ada pengeluaran yang gak ketahuan. Investasi gue kurang, begitu juga dengan aset likuid. Jadi gue mesti perbanyak investasi. Belum juga puas gue nanya nanyi, si panitianya udah nyuruh plannernya untuk berenti ngasih petuah. Gara-garanya pesertanya udah membludak, takut gak kepegang, jadi mesti dibatasi. Plannernya sampe minta maaf ke gue karena gak bisa sampe tuntas.

Dari situ, gue dan Menur ke booth-nya Mandiri untuk tanya tanyi soal reksadana. Si mas-mas menjelaskan dengan teknis, seperti apa itu reksadana saham, blablabla. Agak kurang jelas karena ngomonginnya teknis luar bihasa.

Merasa kurang puas, kami melewati booth-nya Samuel Aset Manajemen. Itu booth-nya canggih bener sampe minder gue mau masuk juga, hehehe.

Akhirnya gue nguping. Asli beneran ini nguping perbincangan seorang pengunjung sama marketingnya. Dan gue...nggak tertarik. Karena si marketing emang jualan aja gitu, dengan bilang "Kita mulai dari 250 ribu pak. Cuma dengan 250ribu aja udah bisa blablabla..."

Agak bosan sama pendekatan macam itu.

Tiba-tiba, di tengah wajah dongo sambil berusaha nguping, ada seorang mas-mas yang manggil gue, "Ada yang bisa dibantu?" dengan gerakan bibir yang diperjelas di tengah suara band yang mulai bising.
Note: ini kan acara consulting ya. kenapa band-nya mesti genjrang genjreng? susah lho, ngobrol kalo band-nya heboh

Mas-mas ini bernama Simon Robertus, dari Samuel Aset Manajemen.
Gue membuka pertanyaan dengan: Kami beginner dan mau mencoba reksadana, apa yang bisa ditawarkan sama Mas?

Lalu beliau menjelaskan dengan sabar..sampai akhirnya perbincangan itu melebar jadi penjelasan dan agak-agak konsultasi dikit. Dari perbincangan kami bertiga, yang gue dapetin adalah:

- Ya, untuk Dana Pensiun, memang prefer pake reksadana saham. Kenapa? Karena return per tahunnya bisa sampai 20%. Ya, resikonya memang ada. Tapi percaya deh, perkembangan saham nggak terhenti cuma di satu titik. Ada banyak saham dari perusahaan besar yang kita bisa perkirakan bakal berjalan terus. Seperti unilever (kapankah kita berhenti membutuhkan sabun dan odol?) atau indofood (kecuali kita bisa menyetop dunia dari makan mie instan). Jadi reksadana saham itu berhubungan dengan lingkaran kehidupan kita. Selama kebutuhan manusia masih tinggi, saham juga akan berputar terus.

- Ya, untuk mengumpulkan uang renovasi rumah yang rencananya mau ngumpulin buat 5 taun, juga pake reksadana saham. Sama aja penjelasannya seperti di atas.

- Untuk menabung biaya pernikahan (ini pertanyaan Menur)..yang cuma berjangka 2 tahun, mendingan pake reksadana campuran. Yaitu campuran saham dan obligasi. Return-nya memang tak sebesar reksadana saham, tapi itu pas lah buat jangka pendek. Reksadana saham hanya untuk rencana jangka panjang.

- Ya, asuransi jiwa mesti murni. Suami/breadwinner bikin term-nya sampai usia pensiun saja. Jangan dicampur dong sama investasi. Ntar jumlahnya pas dibutuhin nggak sesuai lho, sama yang diharapkan karena mesti dibagi dua? Hayooooo?

- Ya, unitlink lupakan saja. Ilustrasi: ketika bunga saham sampai 40% dan campuran sampai 20%, unitlink cuma akan memberi kita 10% saja. KEtika bunga saham turun jadi 20% dan campuran jadi 10%, unitlink tidak akan memberi kita sepeser pun. Ketika gue tanya, kok gitu ya? Masnya bilang, emang gitu sistemnya dia. Jadi, buat apa?


So, ya...sepulang dari situ gue dan Menur berkesimpulan:
- Beda cara komunikasi efeknya juga beda. mas Simon ini komunikasinya enak, gak pelit ilmu tanpa ditanya, kita nanyanya jadi nyaman juga
- Mari segera rencanakan keuangan kita! Gue akan bikin dana pensiun, dan bikin target baru, Menur akan berpikir untuk bikin rancangan tabungan dana pernikahan.

Apakah kami butuh konsultan? Hm...rasanya masih butuh, tapi untuk sekarang, cukup dari sini saja :))
Doakan kami sukses yaaaa! :D




100 Langkah Untuk Tidak Miskin

Membeli buku ini adalah langkah gue untuk mengatasi segala kebingungan di postingan tentang Dana Darurat-Menghitung Pengeluaran. Tentunya setelah melewati beberapa langkah percobaan sebelumnya yaitu:

- Menghubungi beberapa financial clinic untuk tahu berapa biaya konsultasi, dibikinin plan, atau diaturin sekalian uang kami sama mereka. Begitu tahu jumlahnya, kami terdiam.. *siiinggggg* . Nggak terlalu mahal kok, percayalah. Tapi cukup lumayan membutuhkan waktu untuk menabung biayanya. Kan agak lucu ya? Mau diaturin uangnya, tapi keteteran sendiri mbayar financial planner-nya? Hm... so we skipped this step

- Mengikuti workshop financial planner.Tapi entah kenapa, jadwal mereka selalu bentrok dengan kegiatan kantor atau acara keluarga. Darn it! Padahal itu menarik banget, dan rasanya memang kami butuhkan.

- Mengikuti twitter-nya Ligwina Hananto, si peracun hidup kami yang dulu (terkesan) bahagia..hahahaha! Ini sungguh membantu. Beneran! Tapi dalam wujud motivasi, dan pengetahuan. Sedangkan kami sekarang dalam tahap butuh tips khusus. Sementara Ligwina kan nggak selalu sempet balesin pertanyaan orang satu per satu kan?

So, i bought this book :)

Dan ternganga-nganga lah gue membacanya :0 karena merasa ditampar bolak balik!

Dari buku itu, gue baru benar-benar melek bahwa yang sekarang kami butuhkan adalah:

- Dana Darurat
- Dana Pensiun
- Asuransi Jiwa

The last point is for my hubby.
Penjelasannya adalah (ini seinget yang gue denger di siarannya Ligwina ya), my hubby is the breadwinner in our 'lil family. So he's the one who should have life insurance. So when the time has come, gue dan anak-anak gue dan dia nantinya akan mendapat jaminan hidup insya Allah.

Dan rupanya, asuransi jiwa yang dia ambil selama ini bergabung dengan Unitlink sodara sodarah! Apa sih masalahnya dengan Unitlink? Gak tau, sumpah! Itu Ligwina yang sering woro-woro nggak rekomen Unitlink. Dijelasin di radio juga gue nggak ngertiiiiii... intinya ini harus diubah jadi asuransi jiwa murni. Tapi gak segampang itu prosesnya. Karena si agen unitlink ini juga kan kekeuh nyuruh dia gak mengganti asuransinya jadi murni or whatsoever. Jadi kami mau menunggu dulu, sampai ketemu narasumber lain yang bisa menjelaskan: Unitlink? Mengapa tidak?

Lanjutssss...
Poin ke dua adalah Dana Pensiun.
Gue gak pernah mimpi untuk menghitung kebutuhan gue ketika tua nanti. Males.
Asli malessssss...

Ya ngapain sih? Kan kita juga dapet dana pensiun dari kantor?

Tapi ilustrasinya gini aja. Dulu gue makan batagor 200 perak bisa dapet 4 biji. Ukurannya gede-gede, enak, mantep, kenyang. Sekarang? 7000 se porsi untuk 4 batagor di depan kantor gue. *lempar inflasi ke kali ciliwung*

For God's sake, inflation, why do you have to come into our lives? Why? Why???!!!

Inflasi lah penyebab segala kenaikan harga itu.

Gak perlu naif lah, kita semua tau kan tiap taun harga barang pokok dan teman temannya pasti naik. Masa sih, biaya hidup kita gak ikutan naik pas pensiun nanti?

Nah, gue ngitung deh tuh kan. Jumlah biaya hidup sebulan + inflasi 10%, teruuuus dikali sampe umur pensiun (55 tahun).

Misalnya: biaya hidup Rp 1000/bulan. Tambah Inflasi 10 % = Rp 1100 (Tahun ke I).

Lalu Rp 1100 + inflasi 10% = 1210. Teruuuuus aja sampe umur pensiun itu.

Hasilnya: JDER! Ratusan juta bok biaya hidup gue, sumpah.

Gak berenti sampe situ yaaaa...si ratusan juta ini mesti dikali setaun, lalu dikali lagi hingga estimasi usia kita hidup. Gue masukin 85 tahun..kurang 55 taun, berarti untuk 30 taun yaaa...

ratusan juta x 12 bulan x 30 = JEGERRRR!!!!

Dapet dari mana itu? Ha? Maling? Ha? Ngrampok? Ha? Gimana coba jelaskan pada sayahhhh!!!!

Gue pun mulai gerilya, tanya ke Bank tentang program rencana pensiun. Ada sih, tapi bunganya per tahun hanya 9%. Helloooowh? Inflasi 10% kan? Jadi 1% lagi itu saya mesti cari kemanah?
Belum lagi kalo mikirin biaya anak sekolah yang katanya inflasinya bisa mencapai 20% tiap tahun! Mak!



Kata buku itu, berarti gue harus mengikuti reksadana saham. Karena return-nya paling mencukupi untuk memenuhi target si JEGERRRR!!!! itu.

Oke, pertanyaan saya: di mana saya bisa mendapatkan penjelasan soal mengambil reksadana saham itu?
saya nggak mau ujug2 dateng ke bank, mau beli reksadana terus diarahkan ke jalan yang lebih komersil sama si bank.

Ya kan?
Lalu saya bertemu lah dengan si FE, alias Financial Expo :))


Dana Darurat - Menghitung Pengeluaran

So, menyambung posting sebelumnya soal dana darurat. Aturannya kan : minimal 6x pengeluaran sebulan kita.

Nah, berapakah pengeluaran kami sebulan?

Kweng kweeeeengggg...!

Susah rasanya memulai untuk mencari tahu yang satu ini. First of all, gue takut menghadapi kenyataan bahwa pengeluaran gue sebulan itu mahal, berlebihan, intinya takut aja. Apalagi, sebelum ini, gaji kami selalu dipisah. He and his money, me and mine. Urusan uang dia mau dipake buat apa, itu bukan urusan gue. Yang penting, tabungan Dana Darurat tetep lo transfer ke gue. That's it!


Tapi suatu hari akhirnya kami duduk bareng, dan menjabarkan pengeluaran kami, detail demi detail, ditulis di sebuah buku. Sambil ketawa miris, gue melihat fakta bahwa, uang pulsa gue, setara sama biaya ngopi gue sebulan, bahkan sama seperti biaya gue beli baju. Yang artinya, udah berlebihan.

Sejak itu gue menghentikan kebiasaan ngopi di cafe premium itu, kecuali kalo ada buy 1 get 1, atau emang duitnya lagi ada aja.

Dalam mengatur pengeluaran, kami memutuskan beberapa hal:

- Uang jajan per hari dijatah
- Ada uang khusus buat weekend, yang well..biasanya menghabiskan lebih dari 200ribu cuma sehari thok.
- Ada uang khusus angpao kawinan. Ini nih, yang jarang tapi mbludek pas kejadian.
- Ada tabungan khusus ke dokter. Untuk yang ini, karena gue lagi terapi hormon untuk berusaha hamil.

Setelah itu, mulai kebayang deh, berapa jumlah pengeluaran kami sebulan. Yang ternyata, oh ternyata..gue baru sadaaaaar! Bisa 3 kali lipat pengeluaran kami sewaktu single.

Ada begitu banyak perubahan setelah kami menikah, yang selama ini berusaha kami lupakan, biar nggak pusing. Kami anggep nggak begitu eksis, jadi kami tetep bisa kemana-mana, beli ini-itu, asik asik ngayal liburan ke luar negri dadakan..yang padahal bisa bikin kami bangkrut.

Setelah tau jumlah pengeluaran, dan di kali 6 untuk memenuhi minimum Dana Darurat, JDER! Pening lah kepala awak ni...

Itu buanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget! Gak kebayang mesti ngumpulin berapa lama buat Dana Darurat thok. Bahkan ditambahin bonus, atau rapelan gaji pun rasanya masih lama.

Apa yang terjadi?

Dana Darurat --> Financial Planning :)

Pengalaman yang nggak bakal gue lupain, hihihi...

Berawal dari ketertarikan gue sama cara mengelola keuangan yang sering diutarakan sama Ligwina Hananto di Hard Rock FM, setelah gue menyandang status istri sekitar dua tahun lalu.
Gue sempet skeptis, karena biasanya acara money talks di radio nggak pernah menarik. Ujung-ujungnya disuruh hemat, hemat dan hemat. Bosen!

Baru setelah gue denger soal Dana Darurat, dimana kita mesti menyimpan 10% dari penghasilan sebagai bemper hidup kita, gue tertarik. Menurut gue, itu rasional banget. Barulah gue menerapkan itu di rumah tangga gue, selama 10 bulan terakhir.

Awalnya, gue pikir bakal kesulitan. Biaya hidup gue sebulan paaaaaaling banyak dihabiskan untuk urusan perut! Wisata kuliner dan ngopi di cafe premium adalah hobi gue banget.

Yang ke-dua adalah belanja online. It's rare to see me shopping at the mall. Tapi kalo belanja online, hmm..itu hobiiii sekalih..hehehe.

My hubby is the contrary. Dia bisa nggak belanja baju, sepatu, ngopi gak suka, kuliner pun sukanya yang itu - itu aja: Nasi Padang. I thought he's gonna fine with it.

But i was wrong.

My hubby felt insecure at first about this system.

Menyisihkan 10% dari gajinya bukan perkara gampang. Dia sih fine-fine aja kalo gue minta transfer. Tapi nggak ada semangatnya sama sekali. Beda kalo lagi ngomongin mau buka bisnis baru. Matanya pasti langsung berbinar. Jadi, pada waktu itu buat dia Dana Darurat bukanlah solusi yang menyenangkan.

Beberapa bulan berlalu, Dana Darurat kami alhamdulillah sudah mulai berisi. Seneng? Pasti lah. But my hubby has another thought. Kadang dia suka bilang, "Kita kan punya uang yang 10% itu tuh. Dipake aja dulu". Jeng jeeeeeng! Dia lupa bahwa esensi si Dana Darurat itu:

- Cuma dipakai buat keperluan darurat yang emang nggak ada uang kas sama sekali yang bisa menutupi. Itu pun, kalo udah dipake, kita sama aja utang lagi sama si Dana Darurat. Alias, kita mesti ngumpulin uang buat ngembaliin dana yang sempat kita pake
- Buat bantalan hidup jikalau kita resign
- Jumlah nya minimal, 6x biaya hidup sebulan! Ini berlaku buat yang sudah menikah. 2x biaya hidup sebulan buat yang single.

Jadi selama 10 bulan terakhir, gue selalu menahan sabar setiap dia tergiur untuk menggunakan si Dana Darurat ini untuk kepentingan buka bisnis or whatsoever came in his mind that time ;p

Alhamdulillah, dengan segala penjelasan dan suka gue ingetin lagi setiap dia tergoda, sekarang dia sudah bisa ikhlas, bahwa menyetor 10% itu nggak perlu diinget-inget lagi. Anggep aja itu uang emang gak pernah ada, jadi gak kepikiran buat diambil :)

Emotionally unstable

A conversation between me and my friends, Ocha and Dido, on Friday lunch brought me to some of my thoughts.
About controlling emotion.

Only few people known me as emotional woman, especially when it comes to impolite men. Men whom always try to get attention from girls, whenever they had a chance, with bad and annoying attitudes.

When i got whistlers, fake-cough, or sometimes those men call me with nicknames i hate, i used to give them my middle finger.
Yeah, i am not as sweet as they thought. Not all the girls have sweet attitudes when it comes to buggers like them. To be expressly clear, i am not a sweet girl at all for them.

I used to yelled back when a man condescend me with gender issues. I don't (and never) like it when they said 'You're just a girl'.

I once yelled at vending siomay man, because he tried to teased me from behind. I shouted to him to leave, i yelled so loud until people around us freeze a moment, and he left red faced.

I never mind hit a man with my bag to his face, because men stand in my way on purpose. I want them to know, that nothing stops me, even their ugly face and attitude getting in my way.

My heart always feel better when i can tell to an impolite man how ugly he was until his face looked like his hurt.

I like to hurt impolite men until now.

The difference after i wear hijab is, now i have to think twice, pull myself together before do something extreme like i used to. I barely use my middle finger, hold my yell, and only use my snobby face up to crack those men down. Few men understood, most impolite men don't. I believe GOD always create a man perfectly. Only for these men, they don't use what GOD has given to them as perfect as they have made.

Too bad

Selasa, 15 Maret 2011

Zara is On Sale!


Last Friday, i read someone's status (I still can't figure whose until now) that said Zara is on sale 90% in Plaza Indonesia.
Coincidentally, i had to go to Grand Indonesia that afternoon. I know, they both different place, but somehow, they are close enough right? Hehehe...
Me, Othine and Oni had our brunch at Churreria, and had too much sugar and chocolate until we had to burnt it by window shopping. I suggested them to go to Zara, maybe the sale was on. Who knows?
When we first arrived there, there were no sign of sale at all. We were like, whatever, just get in and find something to look at.
Oni initiated to get inside the TRF area, and we found a shelf full of discount stuffs. Those longsleeves shirts above, costs IDR 99.000 each!!! Yes, each!
I also bought two trousers, the black suede with belt for IDR 129.000, and the gray one for IDR 199.000.
Oni and Othine could not manage themselves also :)
We left Zara gracefully :))

So, you might want to check something up there? You better get hurry!

Happy Birthday To Me :)


My birthday was a month a go. But my friends in my division used to give the present way after our member's birthday. Usually its because of the long-time deciding process of what to buy, and how we write the card without detected by the birthday girl.

So yeah, after a month, i got this on my chair. A scarf from Gaudi, a card, nice thought :) Because when they asked me what i want, GD & TOP was my answer, hahaha :D
For that one, i was quite certain they would not know what to give :)

Thanks gank, means so much for me :))

Sabtu, 12 Maret 2011

Futsal and Hijab

I tried futsal about two years a go.
I was out there to strengthen my division team vs another division in our group..
We were amateurs (ans till until now), but we have the spirit to play and struggle, so we beat that other division, and became a champion.
That other division has several good player that played futsal long time before. Afterward, i feel so proud of my team, and we continued to practice ever since.

We've been joined several tournaments, won the 2nd place twice two years in a row. We even had a chance to appeared on TV! Such a great achievements for amateurs right? :)

Before i wore hijab, i was sick for months, and after i wear hijab, i wasn't recovered yet. I took 'leave' from our futsal team.
Time flies and last week was my comeback after 4 months.

First thing that came in my mind was: what should i wear?
Hahaha.. you might say this is typical. But the truth is, i really need something comfort and not easily to parted. So i choose my old training, manset shirt, another shirt to cover up the manset, and bergo hijab from cotton fabric.

I did good i guess, hahaha... My bergo sometimes obscured my sight, so i bind the edges, then i can move freely.

After the practice, i was sweating much!!! Even both of my shirts was wet. That must be because it was my comeback, but in the other hand, because i wore too many clothes, hahaha.

So i decided, to find a sport sleeveless next time rather than other shirt to covered my manset :)

I found another problem when it was time to take shower and wash my hair. I already brought the hair dryer. But my long hair, wouldn't get dry in half an hour. My friends had to leave me alone because i took too long to dried my hair, hahaha :D

The day after, i cut my hair short. It was also to pretend me from worse hair loss (a common problem for hijaber), and also make it easier to get dry when i need it.

:D

Even it takes lots of things to prepare, but i'm happy. Happy to know that wearing Hijab unopposed me to do anything i like :))