Sabtu, 26 Maret 2011

100 Langkah Untuk Tidak Miskin

Membeli buku ini adalah langkah gue untuk mengatasi segala kebingungan di postingan tentang Dana Darurat-Menghitung Pengeluaran. Tentunya setelah melewati beberapa langkah percobaan sebelumnya yaitu:

- Menghubungi beberapa financial clinic untuk tahu berapa biaya konsultasi, dibikinin plan, atau diaturin sekalian uang kami sama mereka. Begitu tahu jumlahnya, kami terdiam.. *siiinggggg* . Nggak terlalu mahal kok, percayalah. Tapi cukup lumayan membutuhkan waktu untuk menabung biayanya. Kan agak lucu ya? Mau diaturin uangnya, tapi keteteran sendiri mbayar financial planner-nya? Hm... so we skipped this step

- Mengikuti workshop financial planner.Tapi entah kenapa, jadwal mereka selalu bentrok dengan kegiatan kantor atau acara keluarga. Darn it! Padahal itu menarik banget, dan rasanya memang kami butuhkan.

- Mengikuti twitter-nya Ligwina Hananto, si peracun hidup kami yang dulu (terkesan) bahagia..hahahaha! Ini sungguh membantu. Beneran! Tapi dalam wujud motivasi, dan pengetahuan. Sedangkan kami sekarang dalam tahap butuh tips khusus. Sementara Ligwina kan nggak selalu sempet balesin pertanyaan orang satu per satu kan?

So, i bought this book :)

Dan ternganga-nganga lah gue membacanya :0 karena merasa ditampar bolak balik!

Dari buku itu, gue baru benar-benar melek bahwa yang sekarang kami butuhkan adalah:

- Dana Darurat
- Dana Pensiun
- Asuransi Jiwa

The last point is for my hubby.
Penjelasannya adalah (ini seinget yang gue denger di siarannya Ligwina ya), my hubby is the breadwinner in our 'lil family. So he's the one who should have life insurance. So when the time has come, gue dan anak-anak gue dan dia nantinya akan mendapat jaminan hidup insya Allah.

Dan rupanya, asuransi jiwa yang dia ambil selama ini bergabung dengan Unitlink sodara sodarah! Apa sih masalahnya dengan Unitlink? Gak tau, sumpah! Itu Ligwina yang sering woro-woro nggak rekomen Unitlink. Dijelasin di radio juga gue nggak ngertiiiiii... intinya ini harus diubah jadi asuransi jiwa murni. Tapi gak segampang itu prosesnya. Karena si agen unitlink ini juga kan kekeuh nyuruh dia gak mengganti asuransinya jadi murni or whatsoever. Jadi kami mau menunggu dulu, sampai ketemu narasumber lain yang bisa menjelaskan: Unitlink? Mengapa tidak?

Lanjutssss...
Poin ke dua adalah Dana Pensiun.
Gue gak pernah mimpi untuk menghitung kebutuhan gue ketika tua nanti. Males.
Asli malessssss...

Ya ngapain sih? Kan kita juga dapet dana pensiun dari kantor?

Tapi ilustrasinya gini aja. Dulu gue makan batagor 200 perak bisa dapet 4 biji. Ukurannya gede-gede, enak, mantep, kenyang. Sekarang? 7000 se porsi untuk 4 batagor di depan kantor gue. *lempar inflasi ke kali ciliwung*

For God's sake, inflation, why do you have to come into our lives? Why? Why???!!!

Inflasi lah penyebab segala kenaikan harga itu.

Gak perlu naif lah, kita semua tau kan tiap taun harga barang pokok dan teman temannya pasti naik. Masa sih, biaya hidup kita gak ikutan naik pas pensiun nanti?

Nah, gue ngitung deh tuh kan. Jumlah biaya hidup sebulan + inflasi 10%, teruuuus dikali sampe umur pensiun (55 tahun).

Misalnya: biaya hidup Rp 1000/bulan. Tambah Inflasi 10 % = Rp 1100 (Tahun ke I).

Lalu Rp 1100 + inflasi 10% = 1210. Teruuuuus aja sampe umur pensiun itu.

Hasilnya: JDER! Ratusan juta bok biaya hidup gue, sumpah.

Gak berenti sampe situ yaaaa...si ratusan juta ini mesti dikali setaun, lalu dikali lagi hingga estimasi usia kita hidup. Gue masukin 85 tahun..kurang 55 taun, berarti untuk 30 taun yaaa...

ratusan juta x 12 bulan x 30 = JEGERRRR!!!!

Dapet dari mana itu? Ha? Maling? Ha? Ngrampok? Ha? Gimana coba jelaskan pada sayahhhh!!!!

Gue pun mulai gerilya, tanya ke Bank tentang program rencana pensiun. Ada sih, tapi bunganya per tahun hanya 9%. Helloooowh? Inflasi 10% kan? Jadi 1% lagi itu saya mesti cari kemanah?
Belum lagi kalo mikirin biaya anak sekolah yang katanya inflasinya bisa mencapai 20% tiap tahun! Mak!



Kata buku itu, berarti gue harus mengikuti reksadana saham. Karena return-nya paling mencukupi untuk memenuhi target si JEGERRRR!!!! itu.

Oke, pertanyaan saya: di mana saya bisa mendapatkan penjelasan soal mengambil reksadana saham itu?
saya nggak mau ujug2 dateng ke bank, mau beli reksadana terus diarahkan ke jalan yang lebih komersil sama si bank.

Ya kan?
Lalu saya bertemu lah dengan si FE, alias Financial Expo :))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar