Minggu, 31 Juli 2011

Ramadhan - My Version

Saya mencintai Ramadhan..
Terkesan melebih-lebihkan memang, tapi itu jujur. Memang ada on and off seasons dalam hubungan saya dan Ramadhan, tapi tetap saja Ramadhan tak pernah hilang di hati saya, Alhamdulillah..
Pada waktu saya kuliah, saya sempat tak menganggap Ramadhan sebagai bulan penuh berkah. Semua saya jalani biasa saja. Puasa kalau ingin, kalau nggak ya sudah. Apalagi dulu saya perokok, jadi seringkali buyarnya puasa, hanya karena keinginan merokok saya. Sungguh picik. Dua tahun kiranya saya memperlakukan Ramadhan dengan semena-mena. Setelah itu saya kembali normal.

Setelah gedean dikit, hehehe...saya menyesal sekali pernah menyia-nyiakan Ramadhan dua kali itu.

Ketika bekerja, hubungan saya dan Ramadhan menegang. Walaupun saya nggak lagi-lagi sengaja melalaikan puasa, tapi ada saja rasanya alasan untuk tak kuat puasa. Ya maag lah, pekerjaan yang menggila lah, badan jadi gampang sakit lah.

Saya luar biasa malu terhadap semua alasan picik itu ketika mendengar tentang kisah Nabi yang selalu berusaha beribadah dalam keadaan sakit parah sekalipun. Kalau tidak salah, itu adalah kisah Nabi Daud, yang konon tak pernah lalai ibadah dalam kesulitan apapun.

Tarawih pun demikian. Ada masanya saya ingin sekali mengumpulkan ibadah tarawih dalam satu bulan, baik itu di masjid maupun sendiri. Tapi belum tercapai juga, lagi-lagi alasan saya adalah pekerjaan. Bisa-bisanya saya bilang bahwa setelah buka puasa, pikiran saya lebih segar, sehingga saya bisa lebih kuat bekerja.

Padahal, saya yakin sekali, saya sangat membutuhkan pahala dari tarawih berjamaah selama Ramadhan. Mengingat dosa yang saya perbuat selama ini tentunya. Sholat berjamaah saja pahalanya 27 kali lipat daripada sholat sendirian. Tarawih lagi, sholat yang cuma ada di bulan Ramadhan. Kok bisa ya, saya mengalahkannya cuma karena pekerjaan?

Atas semua pemikiran ini, saya berharap...sangat berharap Ramadhan kali ini saya perlakukan lebih baik daripada Ramadhan sebelumnya. Saya sangat ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan banyak ibadah. Seperti yang selalu disenandungkan para ustad, semoga kita bertemu Ramadhan tahun depan. Dimana umur kita, tak ada yang tahu.

Bayangkan betapa menyesalnya manusia jika ia melewatkan Ramadhan, hanya karena sengaja menunda kesempurnaan ibadahnya? Mudah-mudahan kita semua tak termasuk manusia yang demikian.

Jelang Ramadhan ini, saya mau minta maaf sebesar-besarnya jika pernah melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Semoga kita diberi kekuatan untuk berjuang selama Ramadhan dan berkah Ramadhan akan menyertai kita selalu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar