Kamis, 08 Maret 2012

Saya Kangen Tika

Semalam saya mimpi kangen tika banget. Lalu berpikir untuk datang ke makamnya. Disitu makam nggak berbentuk kuburan, entah mengapa.

Makam Tika seperti berada di dalam rumah, dijaga oleh beberapa orang. Mungkin mereka malaikat.

Tika seperti tidur dalam peti kaca. Mirip kisah putri salju. Tapi itu hanya sekilas bayangan di mimpi. Saya sendiri belum pernah ke makam tika. Karena tidak hadir pada saat penguburan.

Saya berjalan ke bilangan Jakarta Selatan. Di situ ada rumah yang entah mengapa saya harus mampir. Saya duduk di garasi, di hadapan saya ada mobil biru bak terbuka.

Tiba-tiba Tika datang. Memakai kemeja putih dan celana kuning pupus. Itu nggak Tika banget sih, hahaha.

Saya dan Tika ngobrol cukup panjang. Dan dia bilang, 'Gue seneng bisa ngobrol tanpa merasa digurui. Semua orang seharusnya bisa bersikap sama ke sesama'.
Setelah itu Tika pamit mesti ke tetangga depan sebentar.
Saya bilang, 'Tapi balik lagi ya Tik.'
Tika menyahut 'Iya.'
Ia lalu berlari menyeberang, dan saya terus memperhatikan. Entah mengapa saya takut mimpi itu akan berhenti. Saya sangat kangen Tika dan masih ingin ngobrol.

Tika disitu menepati janjinya. Ia hanya bicara sebentar sama tetangga dan balik lagi. Belum sempat ngobrol, Tika bilang harus ke tetangga lagi. Saya kembali menunggu dan memperhatikan pundaknya yang menjauh.

Sekali lagi Tika menepati janjinya.
Ia kembali ke garasi dan ngobrol dengan saya. Kalau nggak salah ada seseorang lagi bersama kami.

Tapi baru ngobrol sebentar, tiba-tiba mata saya dipaksa untuk membuka.

Ya, mimpi itu telah berakhir dan bukan Tika yang meninggalkan obrolan, tapi saya.

Saya bangun dengan dada sesak. Tapi tak langsung meraung nangis seperti waktu saya mimpi dia sebelumnya.

Saya tahu saya harus menuliskan perasaan ini, untuk sedikit melepaskan rasa sesak, walaupun saat ini pun saya perlahan berlinang air mata. Saya kangen sekali sama dia.

Saya takut akan mengalami kehilangan seperti ini lagi. Seorang teman yang sangat baik dan sincere seperti dia.

Entah apakah saya akan sanggup menahan kangen dan sedih, tapi rasanya itu tak perlu dipertanyakan.

Tuhan pasti akan mengambil milik-Nya. Gimana kita belajar mengikhlaskan saja.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar