Jumat, 27 Juli 2012

Jadi Orang Ke-3

Ini nggak membahas tentang perselingkuhan yaa..hehehe
Gue lagi mau ngomongin tentang jadi orang ke-3 dari sebuah masalah.
Pasalnya, gue menyaksikan sendiri pertikaian antara beberapa orang teman yang melibatkan orang di sekitarnya.
Si A misalnya, ribut sama si B. Terus A cerita sama C, sahabatnya yang konon, kenal juga sama B. Ketika A, B, C bertemu, kira-kira apa yang dipikirkan oleh C?
Apakah menganalisa kesalahan si B?
Apakah nge-judge si B?
Atau berusaha memandang B se-obyektif mungkin hingga nggak kemakan omongannya si A?

Well, ketiganya nggak ada yang mudah.
To be honest, gue pernah berada di posisi C. Akhirnya? Gue jadinya menganalisa, sekaligus nge-judge dan akhirnya ikut menjauhi si B. Karena sulit untuk jadi obyektif di saat A cerita dengan menyayat hati tentang kisah sedihnya.

Belakangan gue sering papasan sama B, terutama di event-event indie. Kami berdua sama-sama nggak menegur sapa. Karena mungkin masih terpengaruh masa lalu.

Tapi, kira-kira kalau nggak ada masalah sama A, akankah gue dan B tetap berteman? Hm, bisa jadi. Walaupun dalam konteks gue dan B, kita sebenarnya nggak terlalu cocok dalam banyak hal. Jadi ya, berteman biasa pasti bisa, tapi berteman baik rasanya nggak.

Di luar dari itu, gue pengin banget bisa biasa lagi sama si B. Tapi tampaknya, gue sudah keburu menorehkan rasa nggak suka di hatinya B. Sehingga kita nggak bisa saling memulai berteman lagi. Dan pada saat inilah gue menyalahkan diri sendiri.

Kenapa gue mesti kemakan omongannya A?
Kenapa gue mesti terpengaruh sama A?
Kenapa? Kenapa?

Itu juga yang terjadi sama masalah ABC (kayak sirop, hihihi) yang lagi gue saksikan saat ini. Gue jadi sering merhatiin C. Orang yang selama ini jadi pendengar setia A.

Kasihan juga ya, si C ini. Dia mungkin nggak punya pengalaman buruk sama B, tapi diajak untuk beropini buruk tentang B. Dia mungkin menganggap B menyenangkan, lalu segera menghapusnya karena denger omongan negatif dari A.

Pelajaran pertamanya adalah, hati-hati sama mulut sendiri. Kadang kita bisa menjelekkan seseorang, sampai parah banget, dan membuat nama baiknya orang tersebut rusak.

Kadang kita bisa mengeluarkan emosi lewat kata-kata tajam tentang seseorang, tanpa memikirkan.. apakah pendengar dari cerita kita merugi kalau dengerin curhatan negatif kita tersebut? Apakah kita bisa menjamin, bahwa orang yang kita benci, juga tidak baik buat orang lain? Bahwa orang yang kita benci nggak pantas berteman dengan orang lain?

Pelajaran kedua, hati-hati juga sama pendengaran kita. Nggak semua yang kita dengar itu benar. World is full of subjectivity. Banyak orang yang suka mempermasalahkan hal kecil demi kebutuhannya mengaduk-aduk perasaan sendiri. Banyak orang yang suka menghina orang lain, demi membuat dirinya terlihat berharga. Banyak orang yang suka membicarakan keburukan orang lain, hanya karena dia memang sulit merasa bahagia.

Mungkin akan lebih baik kalau 'memberi makan' pendengaran kita dengan hal yang bermanfaat, dan meninggalkan yang nggak enak. Percaya deh, positive thinking itu melegakan, kok. Lagian, kalau kita main musuhin orang hanya karena cerita jelek tentangnya, apakah itu adil?

It's not fair..yet it's happening and will be going on and on in this world.

Tinggal gimana kita untuk menyikapinya aja :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar