Senin, 24 Juni 2013

Kabar Pagi

Mau cerita tentang salah satu teman terbaik gue.
Nama aslinya Diani Soraya. Beberapa temen gue manggil dia My Din, Dinda dan Dijo. I choose to call her Dijo.
Selama gue kenal sama dia, karakter yang paling nempel adalah, she's a family oriented person. Dia tumbuh di keluarga besar dan nikah dengan suami yang punya keluarga besar juga.
Sepanjang jaman kuliah, hidupnya 'lurus' kayak jalan tol. Sekolahnya bener, attitude-nya baik, keputusan yang dia ambil pun mostly ideal.

Sempet gue berpikir hm, mungkin bisa dibilang agak sinis ya (di jaman kuliah dulu), bahwa hidupnya Dijo itu nggak pernah susah. Semua dia bisa dapet dengan mudah.

Selepas kuliah, gue makinan jarang berkomunikasi sama dia. Tiba-tiba kita ketemu dan ngobrol panjang lagi setelah sama-sama pakai jilbab di tahun 2010. Setelah itu, obrolan kita jadi lebih nyambung. Bahkan gue bikin ILUVIA pun bareng dia.

Dari situ, semua tentang kehidupan aslinya Dijo mulai terbuka satu per satu. Bahwa dibalik semua yang terlihat 'serba mudah' itu, hidupnya penuh perjuangan banget. Tapi dia memang memilih untuk nggak nunjukkin itu ke orang-orang dan itu yang diajarin di keluarganya juga.

Di balik penampilannya yang mostly selalu rapi, ternyata dia sendiri yang nyuci dan nyetrika baju-bajunya. Di balik sibuknya dia, ada ibunya yang sakit parah dan masalah-masalah lainnya. Di balik kesulitannya itu, dia dan keluarganya selalu berusaha untuk tegar dan ikhlas.

You know some people who do good will also living in goodness? That's her family. Their good deeds protect them from negative things.

Sekitar satu setengah tahun lalu, ibunya divonis kanker stadium 3,5. Yang membuat pinggangnya patah, jadi nggak bisa jalan dan udah menjalar kemana-mana. Ada masa-masanya sambil ngurusin label, Dijo juga harus nguatin diri sendiri karena masih merasa terpukul. Ada masa-masanya dia nelfon untuk nangis sebanjir-banjirnya. The craziest part is, dia baru mau cerita ke temen-temen di circle gue setelah sekitar 6 bulan setelah itu. Itu pun dia nggak yang sengajain cerita. Dia bener-bener berusaha menguatkan diri dengan menyimpan buat diri sendiri dan keluarga. I feel honored karena dipercaya jadi tempat ceritanya dia lebih dulu.

Ada masa-masanya gue ke rumahnya atau rumah sakit untuk nengokin ibunya. Frekuensi nengokin itu berhenti sekitar setahun lalu, ketika gue ngeliat kondisi nyokapnya yang makin memprihatinkan. Gue selalu inget pesen Dijo untuk nggak nangis depan nyokapnya dan gue merasa nggak sanggup, that's why gue memilih untuk berhenti dateng.

Months later, obrolan gue dan dia makin jarang terjadi karena kesibukan masing-masing. Gue ketemu dia terakhir pas anak keduanya Dijo lahir, which is sekitar sebulanan yang lalu. Pada saat itu, ibunya sudah sebulan tinggal di rumah sakit, dengan dosis morfin paling tinggi.

Mid June kemaren, dia sempet cerita bahwa anak pertamanya, Tama, harus dioperasi. Bener-bener cobaan di saat yang sulit. Yang selalu dia pegang adalah, Allah nggak pernah memberi cobaan di luar kemampuan manusia dan bahwa semua rasa sakit, sedih, kecewa adalah sebuah tanda bahwa sebagian dosa kita sedang diampuni.

Tadi pagi, jam 01.03, ibunya Dijo dipanggil Yang Maha Kuasa. 

Rasanya ikut terpukul, ikut shock, tapi juga ikut ikhlas. Karena akhirnya ibunya Dijo dilepaskan dari sakit, diberi ketenangan, diterima kembali oleh Allah.

Waktu ngelayat tadi, finally kita berdua ketemu untuk pelukan dan sama-sama nangis. Semua kesedihan yang sebelumnya ditahan-tahan, cuma terucap di telfon, cuma ditulis di messenger, seperti dituang deras, tapi dengan keadaan yang lebih baik, karena jalan keluarnya udah ada.

Gue yakin, setelah ini Dijo nggak akan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Nggak akan terlalu lama meratapi kepergian ibunya. She'll be stronger than she once before. Meanwhile, I will always try to spare some energy and set a slot in my routines to support her.

*peluk Dijo*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar