Senin, 13 Januari 2014

Makna Maulid Nabi buat Saya

12 Rabiul Awwal, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi yang diturunkan paling akhir bagi umat Islam, namun paling sempurna.

Jujur, sebelumnya saya hanya tahu sebatas itu. Sebatas hari lahir Nabi, sosok spesial yang sepanjang hidupnya berjuang di jalan Allah dan berjuang untuk umatnya.

Baru sekarang saya tau bahwa, ada dua keyakinan tentang Maulid Nabi. Pertama, ini dianggap tidak perlu, karena memang Nabi sendiri nggak pernah merayakan ulang tahunnya dan umat Islam sebaiknya nggak mengikuti ritual selain yang pernah dikerjakan Nabi Muhammad SAW. Kedua, ini dianggap perlu untuk meningkatkan semangat jihad saat umat Islam masih berjuang dulu banget, yaitu dengan mengenang kisah perjuangan Nabi. Ada penggagasnya, tapi saya lupa namanya siapa.

Soal mau ngapain di Maulid Nabi ini, bebas deh mau pilih yang pertama atau kedua. Tergantung keyakinan masing-masing aja.

Kalo buat saya, saya merasa yakin atas keduanya, tapi yang saya praktekkan untuk pribadi adalah yang kedua.

Kenapa?

Karena saya hidup di lingkungan yang membutuhkan perjuangan sebagai muslim untuk hidup sesuai syari'at Islam. Lingkungan saya majemuk, semua agama, segala keyakinan, ada.
Termasuk muslim yang meyakini bahwa yang haram bisa dihalalkan, yang bathil bisa dilupakan, yang benar lebih asyik untuk dicibir, yang wajib bisa ditinggalkan.

Kadang saya pengen berada di lingkungan yang isinya orang muslim yang taat semua. Tapi, siapa saya? Ibadah yang rutin aja masih super jauh dari sempurna.

Alih-alih merasa rendah, saya mau berpikir positif aja. Di lingkungan inilah jihad versi saya dimulai. Di lingkungan seperti inilah perjuangan saya sebagai muslim diuji. Intinya nguatin diri biar lingkungan nggak merusak saya dan saya juga nggak membuat lingkungan makin rusak.

Harus diingat bahwa dalam perjuangannya, Nabi Muhammad SAW tetap teguh pendirian meski Tuhannya dicela, yang tetap tersenyum walaupun dilempari batu, yang bersujud di hadapan Allah saat dibangkitkan dari kematiannya nanti--karena ingin Allah tidak memprioritaskan dia, melainkan umatnya.

Saya nggak mungkin sesempurna Nabi. Udah pasti, yakin, mutlak. Tapi semangat juang beliau, semoga bisa terus saya jalani. Aaamiiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar