Senin, 04 Agustus 2014

Dhafin's Birth Story

Hai semua!
Selamat datang!

Kenalin, aku Dhafin :)
Aku anak pertama dari Fara [yang punya blog ini] dan suaminya.


Aku lahir tanggal lewat c-sect di RSB Permata Sarana Husada :)
Kata Eyang, yang nemenin Ibu seharian, tadinya Ibu mau melahirkan normal. Di hari itu pun, usia kandungan Ibu udah 40 minggu. Harusnya aku udah mulai merangsek lahir. Tapi, Ibu selama seminggu terakhir cuma ngerasain kontraksi palsu. Jadi sama dokter, Ibu mau diinduksi buat merangsang bukaan pada 19 Juni pagi.

Cuma Ibu memang agak aneh. Pagi itu, harusnya Ibu udah di RS jam 9 pagi. Tapi jam segitu Ibu baru bangun! Dengan perut besarnya, Ibu berusaha mandi secepat kilat. Tapi karena udah telat, pihak RS-nya pun neleponin Ibu beberapa kali. Untung RSB-nya dekat dari rumah. Bapak pun ngebut nyetir ke RSB. Sampai di RS, Ibu langsung dibawa ke IGD. Dicek tekanan darah, bukaan [yang belum ada sama sekali], aku juga dicek gerak sama detak jantungnya. Mm, seperti biasa, aku ngabur kalau lagi dicek gitu. Sampai susternya bingung, kok gerakannya sedikit. Pas mereka pergi, baru deh, aku gerak lagi, hehehe...

Jam 11 siang Ibu dibawa ke ruang bersalin, dipasang infus berisi cairan induksi. Ibu sudah siap-siap untuk merasa sakit. Karena, kata temen-temen Ibu, juga bidan di sana, diinduksi itu sakit. Sakitnya lebih dari kontraksi normal. Terus setiap setengah jam gerakanku dalam janin Ibu diperiksa. Katanya, induksi akan berlangsung selama 8 jam. Kalau nggak ada kontraksi juga, Ibu akan menjalani c-sect. 

Lewat dari 4 jam diinduksi, Ibu bukannya kesakitan, malah ngantuk dan sempet tidur. Bidannya juga bingung karena detak jantungku tetap tinggi, tidak melemah sama sekali seperti layaknya janin yang mau lahir. Malah aku masih bisa main-main di rahim Ibu sampai bidannya sempet nyari-nyari posisi aku di mana buat periksa detak jantung. Tapi di ruang bersalin itu menyenangkan, karena dikirimin makanan terus!

Begitu jam 6 sore, bidan meminta Ibu untuk jalan-jalan di dalam ruangan bersalin. Soalnya Ibu masih nggak merasakan kontraksi juga. Tapi dasar Ibu. Karena dia diinfus, Ibu jadi nggak bisa jalan bebas. Akhirnya dia jalan di tempat dan joget-joget sambil dilihatin Eyang Putri. Mereka tertawa geli sendiri sama adegan itu, hehehe.. 

Jam 7 malam, dr. Silfiren datang dan cek bukaan, masih nihil. Ibu pun dipersiapkan untuk operasi tanpa puasa. Di situlah Ibu mulai tegang, gerakanku pun berkurang. Eyang Putri berusaha menenangkan Ibu. Bapak juga belagak santai, tapi nggak berani deket-deket ruang operasi, hehehe. Bapak emang udah bilang dari awal nggak akan kuat nemenin Ibu lahiran.

Jam 8 malam Ibu masuk ruang operasi. Bajunya sudah diganti, kepalanya ditutup semacam shower cap. Eyang Putri siap dengan buku doanya dan duduk di luar dekat pintu masuk ruang operasi. Ibu langsung bersiap untuk merasakan sakitnya disuntik anestesi. Yaitu suntikan di tulang belakang. Tapi lagi-lagi Ibu nggak merasa sakit. Hanya saja, ketika anestesi itu bekerja, Ibu baru merasakan dahsyatnya c-sect. Nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, intinya Ibu merasa nggak berdaya.

Operasi dimulai pukul 20.30. Ibu memejamkan mata sambil berusaha tenang dan tersenyum. 15 menit kemudian, aku lahir! Beratku 3kg [yang awalnya dikira 3,2 kg], dan panjang 49 cm. Bapak yang diberitahu cuma bisa melongo karena terpukau, Eyang Kung menangis terharu, Eyang Putriku mengucap syukur.


Ternyata, aku lahir dalam kondisi leher terlilit tali pusat 3x. Padahal yang diketahui dokter, aku cuma terlilit tali pusat 1x. Ini membuatku sulit bernapas, dan harus diberi oksigen setelah lahir. Efek anestesi dan ruang operasi yang sangat dingin membuat Ibu menggigil hebat. Setelah aku lahir, perut Ibu masih harus 'dibereskan' selama 45 menit. Karena menggigil itu, Ibu hampir tidak bisa bicara. Itu sebabnya Ibu dan aku tidak merasakan IMD. Kami cuma diletakkan di dua tempat tidur berbeda yang bersebelahan. Ibu perlu recovery selama 2 jam, begitu pula aku.


Setelah aku dan Ibu berada di kamar bersama, semuanya baru terasa nyata bagi Ibu. Raut wajahku dibilang mirip sekali sama Bapak. Bentuk muka persegi, hidung mancung, kelopak mata tipis dan bulu yang banyak! Tangisanku juga keras sekali. Eyang bilang, tangisanku emang tangisan bayi Batak, hehehe... 

Kenangan Ibu semasa mengandung aku, sempat menghampiri Ibu dan membuatnya merasa melankolis. Kata Ibu, ia tak percaya, seminggu sebelumnya Ibu masih berkeliling taman komplek bersama Eyang Putri untuk latihan lahiran, sambil sesekali merasakan tendanganku. Bahkan 10 hari sebelumnya Ibu masih 'menikmati' kontraksi palsu saat makan pempek dempo sama Tante Taya di Kedai Kemala. Eh, sekarang aku sudah lahir :)

Ibu sangat bahagia, Bapak juga. Aku dinanti Bapak dan Ibuku selama 5 tahun pernikahan mereka. Ibu menjalani terapi hormon selama kurang lebih 4 tahun untuk mendapatkan aku. Aku juga bahagia. Apalagi banyak teman-teman Bapak dan Ibu yang selalu membantu dan mensupport mereka berdua untuk terus percaya dan berusaha bahwa penantian mereka nggak akan sia-sia.

Kata Bapak dan Ibuku, aku harus berterima kasih sama teman-teman Bapak dan Ibu yang selama ini, bahkan dari awal menikah, selalu kasih support untuk punya momongan. Mereka yang nggak berhenti kasih informasi soal tenaga medis maupun alternatif buat terapi kesuburan, yang dampingin Ibu dan Bapak di saat-saat sulit--putus asa--masa bodo, yang bisa diam di saat orang lain bertanya "Udah isi belum?", yang menghibur ketika usaha Ibu dan Bapak 'gagal', yang mengizinkan Ibu bedrest berbulan-bulan, mengizinkan Bapak bolos kantor buat nemenin Ibu dirawat, yang bela-belain mindahin ruang meeting biar Ibu kerjanya lebih mudah, yang suka bawain tas Ibu, yang hadiahin Ibu makanan dan minuman organik, yang nemenin Ibu nyari krim muka, yang ngingetin Bapak tentang jadi Ayah, sampai semua yang seneng megangin perut Ibu saat hamil, terima kasih banyak!

Terima kasih juga buat pembaca blog Ibu yang kasih support lewat komen-komennya. Ibu bisa jadi bersemangat banget lho, kalau dapat komen, terutama di saat Ibu lagi down. Kata Ibu, itu bisa bikin pikiran dan hati Ibu kembali positif :)

Eh, panjang ya cerita aku, hehehe. Semoga kalian nggak bosan bacanya! Sampai jumpa di postingan Ibu selanjutnya yang mungkin akan banyak bercerita soal aku! *dadah dadah*

4 komentar:

  1. Selamat ya mbak Fara, semoga jadi anak yang sholeh.. Dedeknya sehat dan gantengg bangett... selamat menjadi ibu yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Ratih :)
      terima kasih ucapan dan doanya yaa :) aamiiin...

      Hapus
  2. Congrats Fara & Daly, muaachh! :*

    BalasHapus